Sabtu, 31 Mei 2014

Penggunaan Metode Karya Wisata untuk Meningkatkan Kemampuan Menggambar Bebas bagi Anak TKLB-B

Muhammad Rizqianto Fauzi, Ruruh Pangesti Rahayu
Pendidikan Luar Biasa_Fakultas Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Abstrak: penggunaan metode karya wisata sangat cocok dalam meningkatkan kemampuan menggambar bebas bagi anak TKLB-B. hal ini disebabkan, karena pada anak TKLB-B hanya mengalami gangguan pada indra pendengaranya. Secara khusus dalam artikel ini membahas tentang pengertian anak tunarungu, cara pembelajaran metode karya wisata, pembelajaran menggambar, dan menggambar bebas. Tulisan ini diharapkan menjadi informasi pengajaran metode karya wisata dalam menggambar bebas pada anak tunarungu oleh guru pendidikan luar biasa.
Kata kunci: pengertian tunarungu, karya wisata, menggambar, menggambar bebas.

TKLB-B adalah salah satu lembaga sekolah yang hanya menerima anak didik yang mengalami kelainan yaitu kelainan pada indra pendengaran/tunarungu. Tunarungu adalah anak yang mengalami hambatan dalam mendengar  yang di sebabkan karena tidak berfungsinya sebagian atau keseluruhan  alat pendengaran sehingga anak memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus agar dapat mengembangkan bahasa serta potensi yang dimiliki anak seoptimal mungkin.
Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Dewasa ini, guru dalam menciptakan suasana yang nyaman dalam proses menggambar pada anak, guru akan mengajak anak pada taman kanak-kanak. Pendidikan taman kanak-kanak mempunyai berbagai fungsi antara lain untuk mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak, mengenalkan anak dengan dunia sekitar, menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi, mengembangkan keterampilan, kreativitas dan kemampuan yang dimiliki anak serta menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan lebih lanjut.
Untuk mencapai tujuan dan fungsi tersebut, peran pendidikan terutama guru sangat diperlukan dalam upaya mengembangkan potensi anak usia empat sampai enam tahun yang mengalami ganguan pada indra pendengaran. Dalam pembelajaran ditaman kanak-kanak terdapat beberapa metode yaitu metode bercerita, metode bercakap-cakap, metode tanya jawab, metode karya wisata, metode demontrasi, metode sosiodrama/bermain peran, metode proyek dan metode eksperimen (Depdiknas, 2004).  
oleh karena itu, perlu dilakukan suatu tindakan terhadap kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan metode pembelajaran. Metode yang tepat untuk peningkatan kemampuan menggambar bebas anak adalah metode karya wisata. Kelebihan dari metode ini dapat melibatan anak secara langsung pada pengamatan benda/objek yang akan digambar. Dengan pengamatan tersebut, dapat memudahkan anak untuk berekspresi dan menggambar benda/objek yang ingin digambar anak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Galih Joko (2009) yang menggolongkan tahapan menggambar anak berumur 5-6 tahun kedalam tahapan pra schematic.
Pengertian Anak Tunarungu
Menurut Hallahan dan Kauffman (1982 : 234) memberikan batasan tentang tunarungu di tinjau dari kehilangan kemampuan mendengarnya, bahwa :
“Hearing impairment. A genetic term indicating a hearing disabiliti that range insevety from milk to profound in includis the subsets deaf and hard of hearing. Deaf person in one whos hearing disability precludes successful processing of linguistic information though audio, with or without a haering aid, has residual hearing sufficient to enable sucxessful processing of linguistic information thoght audition”.

 Menurut batasan dari Sri Moerdiani (1987: 27) dalam buku psikologi anak luar biasa bahwa anak tuna rungu adalah mereka yang menaglami gangguan pendengaran sedemikian rupa sehingga tidak mempunyai fungsi praktis dan tujuan komunikasi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Adapun Moh Amin dalam buku Ortopedagogik umum mengemukakan bahwa anak tuna rungu adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebakan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh organ pendengaran yang mengakibatkan hambatan dalam perkembanganya sehingga memerlukan bimbingan pendidikan khusus. (1991: 1).
Pernyataan tersebut kurang lebih berarti bahwa tunarungu adalah suatu istilah umun yang menunjukan kesulitan mendengar dari yang ringan sampai yang berat dan di golongkan kedalam bagian tuli dan kurang dengar.
 Orang tuli adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga tidak dapat memproses informasi bahasa melalui pendengaran dengan atau tanpa alat bantu dengar. Sedangkan orang kurang dengar adalah seseorang yang pada umumnya menggunakan alat bantu dengar sisa pendengarannya  cukup memungkinkan keberhasilan memproses informasi bahasa melalui pendengarannya.
Atau dengan menggunakan bahasa lain, bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang diakibatkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya indra pendengaran sehingga mengalami hambatan dalam perkembanganya. Dengan demikian anak tunarungu memerlukan pendidikan secara khusus untuk mencapai kehidupa lahir batin yang layak.
Ada beberapa perbedaan karakteristik anatara anak tunarungu dengan anak normal. Hal ini disebabkan keadaan mereka yang sedemikian rupa sehingga mempunmyai karakter yang khas yang menyebabkan anak tunarungu mendapatkan kesulitan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga mereka perlu mendapat pembinaan yang khusus untuk mengatasi masalah ketunarunguan.
Karakteristik yang khas dari anak tunarungu adalah sebagai beriku: pada fisik anak tunarungu jika dibandingkan dengan kecacatan lain nampak jelas dalam arti tidak terdapat kelainan. Tetapi bila diperhatiakan lebih teliti mereka mempunyai karakteristik seperti yang dikemukakan oleh Tati Hernawati (1990 : 1) sebagai berikut : (a). Cara berjalan kaku dan agak membungkuk hal ini terjadi pada anak tunarungu yang mempunyai kelainan atau kerusakan pada alat keseimbangannya, (b).  Gerakan mata cepat yang menunujukan bahwa ia ingin menguasai lingkungan sekitarnya, (c). Gerakan kaki dan tangan yang cepat, (d). Pernapasan yang pendek dan agak terganggu. Kelainan pernapasan terjadi karena tidak terlatih terutama pada masa meraban yang merupakan masa perkembangan bahasa.
Perkembangan bahasa dan bicara berkaitan erat dengan ketajaman pendengaran. Dengan kondisi yang disandangnya anak tunarungu akan mengalami hambatan dalam bahasa dan bicaranya. Pada anak tunarungu proses penguasaan bahasa tidak mungkin diperoleh melalui pendengaran. Dengan demikian anak tunarungu mempunyai ciri-ciri perkembangan bahasa sebagai berikut: (1). Fase motorik yang tidak teratur, pada fase ini anak melakukan gerakan-gerakan yang tidak teratur, misalnya : 1) Gerakan tangan; 2) Menangis. Menangis permulaan adalah gerak refleks dari bayi yang baru lahir. Menangis sangat penting bagi perkembangan selanjutnya karena dengan menangis secara tidak sengaja sudah melatih otot-otot bicara, pita suara dan paru-paru; (2). Fase meraban (babbling), Pada awal fase meraban (babling) tidak terjadi hambatan karena fase meraban ini merupakan kegiatan alamiah dari pernapasan dan pita suara. Mula-mula bayi babling, kemudian ibu meniru. Tiruan itu terdengar oleh bayi dan ditirukan kembali. Peristiwa inilah yang menjadi proses terpenting dalam pembinaan bicara anak. Bagi anak tunarungu tidak terjadi pengulangan bunyinya sendiri, karena anak tunarungu tidak mendengar tiruan ibunya. Dengan demikian perkembangan bicara selanjutnya menjadi terhambat; (3). Fase penyesuaian diri, Suara-suara yang diujarkan orang tua dan ditiru oleh bayi kemudian ditirukan kembali oleh orang tuanya secara terus menerus. Pada anak tunarungu hal tersebut terbatas pada peniruan penglihatan (visual) yaitu gerakan-gerakan atau isyarat-isyarat, sedangkan peniruan pendengaran (auditif) tidak terjadi karena anak tunarungu tidak dapat mendengar suara.
Secara garis besar pendapat tentang intelegensi anak tunarungu di klasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu: (a). Pertama anak tunarungu dianggap sama dengan anak normal. (b). Kedua, dianggap bahwa  intelegensi anak tunarungu lebih rendah dari anak normal. (c). Bahwa anak tunarungu mengalami kekurangan potensi intelektual pada segi non verbal (YukeSiregar, 1981 : 2 ).
Semua anak memerlukan perhatian dan dapat diterima di lingkungan yang di tempati. tidak terkecuali anak tunarungu, tetapi semua itu akan sulit didapatkan oleh anak tunarungu karena mereka hanya dapat merasakan ungkapan tersebut melalui kontak visual. Berbeda dengan anak normal yang dapat merasakan ungkapan yang diberikan melalui nada suara yang diperoleh dengan cara mendengar. Hal ini akan berpengaruh pada perkembangan emosi anak tunarungu. Karena keadaanya itu anak tunarungu merasa terasing dan terisolasi dari lingkungannya. Sering terjadi, ketidak mampuan mereka dalam berkomunikasi mengakibatkan suatu kekurangan dalam keseluruhan pengalaman anak yang sebenarnya dasar bagi perkembangan, sikap dan kepribadian.
Setiap manusia memerlukan interaksi dengan lingkungannya. Untuk dapat berinteraksi dengan baik terhadap lingkungannya di perlukan kematangan sosial. Yuke R Siregar (1986 : 26) mengemukakan tentang saran untuk mencapai kematangan sosial, yaitu: (a). Pengetahuan yang cukup mengenai nilai-nilai sosial dan kekhasan dalam masyarakat; (b). Mempunyai kesempatan yang banyak untuk menerapkan kemampuannya; (c). Mendapatkan kesempatan dalam hubungan social; (d). Mempunyai dorongan untuk mencari pengalaman; (e). Struktur kejiwaan yang sehat yang mendorong motivasi yang baik.

Pembelajaran Karya Wisata
Metode pembelajaran karya wisata merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk memberikan suatu pengalaman langsung kepada anak. Dari pengalaman tersebut anak dapat  melihat secara langsung benda atau objek-objek tertentu sehinga dapat menambah pengetahuan anak. Dengan metode karya wisata tujuan pembelajaran dapat dicapai. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurani S (2007:7.10) bahwa metode karya wisata adalah mengunjungi secara langsung ke objek-objek disekitar anak sesuai dengan tujuan anak yang ingin dicapai. Metode karya wisata diterapkan dengan cara guru menjelaskan sesuatu dengan benda atau objeknya, anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memehatikan, meneliti objek tersebut.
Pembelajaran dengan metode karya wisata merupakan salah satu pembelajaran yang sangat menarik bagi anak. Pada pembelajran ini anak melakukan kegiatan dengan cara mengamati dunia sesuai kenyataan yang ada secara langsung yang meliputi manusia, hewan, tumbu-tumbuhan, dan benda-benda lain. Dengan mengamati langsung anak memperoleh kesan sesuai dengan pengamatanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Galih Joko (2009) yang menggolongkan tahapan anak berumur 5-6 tahun ke dalam tahapan pra schematic. Pada tahapan ini anak dalam berkreativitas seni lebih cenderung bisa menggambar dengan bentuk pola yang baru saja dilihatnya walau baru pertama kali melihat.
Dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap benda-benada yang nyata, anak lebih mempunyai inpirasi untuk objek yang akan digambar. Dengan melakukan kegiatan diluar kelas, pengalaman anak akan semakin bertambah sehingga dapat mendukung anak untuk berekspresi dalam bentuk gambar dan menceritakan pengalamanya sesuai dengan gambar yang telah dibuatnya. Hal tersebut juga menambah keaktifan anak dalam melakukan berbagai aktivitas di luar kelas. Hal ini sesuai denga pendapat dari Moeslichatoen (2004:71) yang mengungkapkan bahwa metode karya wisata dapat pula menjadi batu loncatan untuk melakukan kegiatan yang lain. Misalnya bermain membangun, menggambar, bermain drama. Sehingga kegiatan yang dilakukan lebih melibatkan anak dalam pembelajaran guru hanya memfasilitasi bila anak kurang memahami tentang apa yang telah diamati.
Dengan mengajak anak untuk keluar kelas dan mengamati benda serta peristiwa yang dapat digunakan anak untuk dijadikan sebagai objek gambar, tentunya akan meningkatkan kenikmatan dan keaktifan anak sehingga dapat mempermudah anak untuk berekspresi  melalui gambar dan cerita. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Moeslichatoen (2004:72) yang menyatakan bahwa apa yang ingin ditampilkan dan dilakukan oleh anak berangkat dari pemahaman tentang sesuatu yang diamati. Maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran karya wisata sangat tepat untuk meningkatkan kemampuan menggambar bebas anak.
Pembelajaran Menggambar
Menurut Effendy Jauhari (2008) untuk memahami apa sebenarnya menggambar dengan kuas atau jari. Pada hakekatnya menggambar ini adalah pengungkapan seseorang secara mental dan visual dari apa yang dialaminya dalam bentuk garis dan warna. Menggambar merupakan wujud pengeksplorasian teknis dan gaya, penggalian gagasan dan kreativitas, bahkan bisa menjadi ekspresi dan aktualisasi diri. Pada intinya menggambar adalah perpaduan keterampilan, kepekaan rasa, kreativitas, ide, pengetahuan dan wawasan. Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka.
Kegiatan menggambar dilakukan dengan cara mencoret, menggores, menorah benda tajam kebenda lain dan member warna, sehingga dapat menimbulkan suatu gambar (Pamidi, Hajar, dkk, 2008:2.5).    
Tujuan kegiatan menggambar di TKLB adalah menggambar kepekaan indrawi, khususnya indera penglihatan, kepekaan artistic, keterampilan motorik dan daya imajinasi anak (widia pekerti dalam sofa, 2008). Seiring dengan tujuan menggambar yang diutarakan diatas, pamidi, hajar dkk (2008:2.22) mengungkapkan bahwa tujuan menggambar yaitu untuk melatih mengutarakan pendapat dengan lancar.
Bahan atau bidang gambar yang dapat digunakan dalam menggambar yaitu kertas gambar, kertas karto, papan tulis, dan bidang datar lainnya. Ukuran kertas gambar berupa lembaran lebar/besar, A3, A4, atau yang lebih kecil lagi (Sumanto, 2005:49). Menurut pamadhi, hajar, dkk (2008:2.22) media atau bahan dapat digunakan menggambar antara lain: 1) Kertas karton yang terdiri dari ukuran, A5, A4, A3 dan plano atau ukuran kertas gambar padalarang (60x45); 2) Kanvas adalah medium gambar yang paling kuat disbanding bahan kertas dan karton; 3) Papan kayu lapis; 4) keramik, gerabah dan batu, seperti keramik lantai dan gerabah peralatan dapur; 5) fiber glass, bahan ini merupakan bahan inovasi menggambar dengan tenik yang lepas dari penggunaan medium gambar.
Peralatan yang umum digunakan yaitu: 1) Pensil hitam dan pensil warna; 2) Crayon dan pastel, caryon adalah pewarna yang mengandung campuran lilin dan pastel adalah kapur pastel tidak tercampur dengan lilin; 3) Tinta, tinta adalah pewarna cair yang biasanya dibuat untuk menulis dan menggambar; 4) Cata air (water verf); 5) Cat plakat atau paster; 6) Pewarna gambar lainya, misalnya kapur tulis, kapur warna, spidol, boopoint, dan pewarna yang datar atau rata; 7) Kuas dan palet gambar.
Teknik menggambar menurut pamadhi, Hajar dkk (2008:2.30) di taman kanak-kanak terdapat dua teknik menggambar yaitu dengan teknik kering dan basah. Lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan dua teknik tersebut yaitu: (1). Teknik kering adalah tenik menggambar langsung diatas medium dengan menorah atau menggores dengan pensil maupun pastel. Dalam perkembanganya tenik menggambar dengan teknik kering dapat dicampur dengan menggambar dengan teknik basah. (2). Teknik basah adalah teknik menggambar dengan bahan cat air dan digunakan dengan cara mencairkan terlebih dahulu. Jenis cat air bermacam-macam, misalnya: aquarel atau cat air atau sering disebut water colour yang besifat tipis dan sulit kering. Cara mengcairkan aquarel yaitu menuangkan air kedalam mangkuk atau palet cat air baru dituangkan cat airnya. Selain aquarel terdapat teknik tempera yaitu dicampur dengan air tapi bersifat pekat. Cara mencairkanya dituang kedalam mangkuk/ palet cat air setelah itu baru dicairkan dengan air.
Menggambar Bebas
Menggambar bebas adalah istilah di lapangan. Pada istilah seninya menggambar bebas lebih dikenal dengan menggambar ekspresi. Ekspresi adalah pencerminan atau pengunkapan emosi dan perasaan melalui kegiatan menggambar dan melukis. Menggambar ekspresi adalah kegiatan pengungkapan emosi dan perasaan yang tembul akibat pengalaman-pengalaman dari luar ke atas bidang gambar (Dhermawan dalam sumanto 2005:61). Pengalaman dari luar tersebut diperoleh pada saat guru menerapkan metode karya wisata. Dengan mengajak anak berkarya wisata anak memperoleh pengalaman sehingga dapat mempermudah anak untuk menuangkannya ke dalam bentuk gambar ekspresi.
Karakteristik menggambar ekspresi adalah (a) menampilkan bentuk-bentuk gambar bebas, unik, dan kreatif, (b) menampilkan unsure-unsur garis, warna sesuai gaya pribadi penggambarnya, dan (c) obyek gambar sangat dinamis, dapat berupa kesan alam benda, pemandangan, kreasi berdasarkan fantasi ekspresi lainya (Sumanto, 2005:62).
Langkah kerja menggambar ekspresi adalah menentukan bentuk/obyek yang akan digambar kemudian secara langsung dan spontan mengungkapkan sesuai peralatan menggambar yang digunakan. Misalnya gambar pemandangan alam, gambar binatang, tanaman sesuai dengan perasaan dan pengalaman anak. Setelah menggambar suatu bentuk atau obyek tertentu dilakukan dengan penyesuaian yaitu dengan menambahkan pewarnaan pada obyek gambar secara keseluruhan agar kesanya lebih indah.
Petunjuk dalam pemebelajaran menggambar ekspresi di TKLB antara lain: 1) Guru menyiapkan kertas gambar lepas atau langsung di buku gambar dengan ukuran gambar yang di inginkan; 2) Siapkan peralatan menggambar (pensil atau cat); 3) guru hendaknya membantu menuntun langkah-langkah menggambar mulai dari mengarahkan bentuk/obyek yang akan digambar, besar kecilnya gambar yang bisa dibuat, menata/ meletakan bentuk/obyek yang digambar, sampai cara menenbalkan/ mewarnai dengan alat gambar yang ada (crayon atau cat), 4) guru juga member arahan bahwa dalam menggambar sesuatu bentuknya bisa dibuat secara bebas sesuai keinginan anak, namun masih tetap menampilkan kesan dari bentuk/ obyek yang digambar. Sehingga anak tidak biasa mencontoh atau minta contoh dari guru. Dalam perwanaan anak dibebaskan untuk member warna sesuai dengan keinginan anak. Tidak harus sesuai dengan warna yang ada di alam.
Kesimpulan
 Tunarungu adalah anak yang mengalami hambatan dalam mendengar  yang di sebabkan karena tidak berfungsinya sebagian atau keseluruhan  alat pendengaran sehingga anak memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus agar dapat mengembangkan bahasa serta potensi yang dimiliki anak seoptimal mungkin. Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Untuk memudahkan anak tunarungu dalam menggambar maka pengajaran menggambar disekolah TKLB-B menggunakan metode karya wisata.
Pembelajaran dengan metode karya wisata merupakan salah satu pembelajaran yang sangat menarik bagi anak tunarungu. Pada pembelajran ini anak melakukan kegiatan dengan cara mengamati dunia sesuai kenyataan yang ada secara langsung yang meliputi manusia, hewan, tumbu-tumbuhan, dan benda-benda lain. Jadi anak akan dengan menggambar hewan, lingkungan atau pohon-phonan yang disukai oleh anak dan anak akan menggambar secara bebas. Menggambar bebas/Ekspresi adalah pencerminan atau pengunkapan emosi dan perasaan melalui kegiatan menggambar dan melukis. Menggambar ekspresi adalah kegiatan pengungkapan emosi dan perasaan yang tembul akibat pengalaman-pengalaman dari luar ke atas bidang gambar
Saran
          Adapun saran yang ingin diberikan adalah Kepada guru-guru hendaknya mengerti keadaan siswa dan memberikan motivasi secara khusus agar siswa mampu mengembangkan dirinya. Pembelajaran menggambar dengan metode karya wisata ini dapat dijadikan sebagai dasar belajar yang juga dapat diterapkan.

Daftar Rujukan
Amin, M. 1991. Ortopedagogik. Jakarta: depdiknas.
Departemen pendidikan nasional. 2004. Kurikulum 2004 Standart Kompetensi TK & Raudhatul Athfal. Jakarta: Depdiknas
Efendi, M. 2005. Psikopedagogik Anak Berkelainan. jakarta: PT Bumi Aksara
Hallahan, D. P., & Kauffman, J. M., (1978; 1982 [2nd Ed.]; 1986 [3rd Ed.]; 1988 [4th Ed.]; 1991 [5th Ed.]; 1994 [6th Ed.]; 1997 [7th Ed.]; 2000 [8thEd.) Exceptional  learners: Introduction to Special Education. Boston: Allyn & Bacon.
Joko, galih. 2009. Pengembangan Kreativitas dan Seni, (online),
(http//indoskripsi.com-judul-makalah-tentang-pengembangan-kreativitas-dan-seni.htm, diakses 03 Mei 2013).
Moerdiani, S. 1987. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandun: universitas Islam Nusantara.
Moeslichatoen. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. Jakarta: PT,Rineka Cipta.
Nurani S, Yuliani. 2007. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta: universitas terbuka.
Pamadhi, hajar. 2008. Seni Keterampilan Anak. Jakarta: Universitas terbuka
Sofa. 2008. Metode Pengajaran Seni di TK, (Oline),
(http//masofa.wordpres.com-2008-02-03-metode-pengajaran-seni-di-tk, diakses 03 Mei 2013)
Sumanto, 2005. Pengembangan Kreativitas Seni Rupa Anak TK. Jakarta: Depdinas
Wahyono, Endro. 1992. Tunarungu dan Problemanya. Malang: Perpustakaan UM
Wardani, I. G. A. K, dkk.( 2007 ). Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta:   Universitas Terbuka.