Penggunaan Metode Karya Wisata untuk Meningkatkan Kemampuan
Menggambar Bebas bagi Anak TKLB-B
Muhammad
Rizqianto Fauzi, Ruruh Pangesti
Rahayu
Pendidikan Luar Biasa_Fakultas Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Abstrak: penggunaan
metode karya wisata sangat cocok dalam meningkatkan kemampuan menggambar bebas
bagi anak TKLB-B. hal ini disebabkan, karena pada anak TKLB-B hanya mengalami
gangguan pada indra pendengaranya. Secara khusus dalam artikel ini membahas tentang
pengertian anak tunarungu, cara pembelajaran metode karya wisata, pembelajaran
menggambar, dan menggambar bebas. Tulisan ini diharapkan menjadi informasi
pengajaran metode karya wisata dalam menggambar bebas pada anak tunarungu oleh
guru pendidikan luar biasa.
Kata kunci: pengertian
tunarungu, karya wisata, menggambar, menggambar bebas.
TKLB-B adalah salah satu lembaga sekolah yang hanya
menerima anak didik yang mengalami kelainan yaitu kelainan pada indra
pendengaran/tunarungu. Tunarungu adalah anak yang mengalami hambatan dalam
mendengar yang di sebabkan karena tidak berfungsinya sebagian atau
keseluruhan alat pendengaran sehingga anak memerlukan bimbingan dan
pendidikan khusus agar dapat mengembangkan bahasa serta potensi yang dimiliki
anak seoptimal mungkin.
Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang
menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar mereka bisa menuangkan beragam
imajinasi yang ada di kepala mereka. Dewasa ini, guru dalam menciptakan suasana
yang nyaman dalam proses menggambar pada anak, guru akan mengajak anak pada
taman kanak-kanak. Pendidikan taman kanak-kanak mempunyai berbagai fungsi
antara lain untuk mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak,
mengenalkan anak dengan dunia sekitar, menumbuhkan sikap dan perilaku yang
baik, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi, mengembangkan
keterampilan, kreativitas dan kemampuan yang dimiliki anak serta menyiapkan
anak untuk memasuki pendidikan lebih lanjut.
Untuk mencapai tujuan dan fungsi tersebut, peran
pendidikan terutama guru sangat diperlukan dalam upaya mengembangkan potensi
anak usia empat sampai enam tahun yang mengalami ganguan pada indra
pendengaran. Dalam pembelajaran ditaman kanak-kanak terdapat beberapa metode
yaitu metode bercerita, metode bercakap-cakap, metode tanya jawab, metode karya
wisata, metode demontrasi, metode sosiodrama/bermain peran, metode proyek dan
metode eksperimen (Depdiknas, 2004).
oleh karena itu, perlu dilakukan suatu tindakan terhadap
kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan metode pembelajaran. Metode yang
tepat untuk peningkatan kemampuan menggambar bebas anak adalah metode karya
wisata. Kelebihan dari metode ini dapat melibatan anak secara langsung pada
pengamatan benda/objek yang akan digambar. Dengan pengamatan tersebut, dapat
memudahkan anak untuk berekspresi dan menggambar benda/objek yang ingin
digambar anak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Galih Joko (2009) yang
menggolongkan tahapan menggambar anak berumur 5-6 tahun kedalam tahapan pra schematic.
Pengertian Anak
Tunarungu
Menurut Hallahan dan Kauffman (1982 : 234) memberikan
batasan tentang tunarungu di tinjau dari kehilangan kemampuan mendengarnya,
bahwa :
“Hearing impairment. A genetic term indicating a hearing disabiliti
that range insevety from milk to profound in includis the subsets deaf and hard
of hearing. Deaf person in one whos hearing disability precludes successful
processing of linguistic information though audio, with or without a haering
aid, has residual hearing sufficient to enable sucxessful processing of
linguistic information thoght audition”.
Menurut batasan dari Sri Moerdiani
(1987: 27) dalam buku psikologi anak luar biasa bahwa anak tuna rungu adalah
mereka yang menaglami gangguan pendengaran sedemikian rupa sehingga tidak
mempunyai fungsi praktis dan tujuan komunikasi dengan orang lain dan lingkungan
sekitarnya.
Adapun Moh Amin dalam buku Ortopedagogik umum mengemukakan
bahwa anak tuna rungu adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan
kemampuan mendengar yang disebakan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya
sebagian atau seluruh organ pendengaran yang mengakibatkan hambatan dalam
perkembanganya sehingga memerlukan bimbingan pendidikan khusus. (1991: 1).
Pernyataan tersebut kurang lebih berarti bahwa tunarungu
adalah suatu istilah umun yang menunjukan kesulitan mendengar dari yang ringan
sampai yang berat dan di golongkan kedalam bagian tuli dan kurang dengar.
Orang tuli adalah seseorang yang kehilangan kemampuan
mendengar sehingga tidak dapat memproses informasi bahasa melalui pendengaran
dengan atau tanpa alat bantu dengar. Sedangkan orang kurang dengar adalah
seseorang yang pada umumnya menggunakan alat bantu dengar sisa
pendengarannya cukup memungkinkan keberhasilan memproses informasi bahasa
melalui pendengarannya.
Atau dengan menggunakan bahasa lain, bahwa anak tunarungu
adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang
diakibatkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya indra pendengaran sehingga mengalami
hambatan dalam perkembanganya. Dengan demikian anak tunarungu memerlukan
pendidikan secara khusus untuk mencapai kehidupa lahir batin yang layak.
Ada beberapa perbedaan karakteristik anatara anak tunarungu
dengan anak normal. Hal ini disebabkan keadaan mereka yang sedemikian rupa
sehingga mempunmyai karakter yang khas yang menyebabkan anak tunarungu
mendapatkan kesulitan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga
mereka perlu mendapat pembinaan yang khusus untuk mengatasi masalah ketunarunguan.
Karakteristik yang khas dari anak tunarungu adalah sebagai
beriku: pada fisik anak tunarungu jika dibandingkan dengan kecacatan lain
nampak jelas dalam arti tidak terdapat kelainan. Tetapi bila diperhatiakan
lebih teliti mereka mempunyai karakteristik seperti yang dikemukakan oleh Tati
Hernawati (1990 : 1) sebagai berikut : (a). Cara berjalan kaku dan agak
membungkuk hal ini terjadi pada anak tunarungu yang mempunyai kelainan atau
kerusakan pada alat keseimbangannya, (b). Gerakan mata cepat yang menunujukan
bahwa ia ingin menguasai lingkungan sekitarnya, (c). Gerakan kaki dan tangan
yang cepat, (d). Pernapasan yang pendek dan agak terganggu. Kelainan pernapasan
terjadi karena tidak terlatih terutama pada masa meraban yang merupakan masa
perkembangan bahasa.
Perkembangan bahasa dan bicara berkaitan erat dengan
ketajaman pendengaran. Dengan kondisi yang disandangnya anak tunarungu akan
mengalami hambatan dalam bahasa dan bicaranya. Pada anak tunarungu proses
penguasaan bahasa tidak mungkin diperoleh melalui pendengaran. Dengan demikian
anak tunarungu mempunyai ciri-ciri perkembangan bahasa sebagai berikut:
(1). Fase
motorik yang tidak teratur, pada fase ini anak melakukan gerakan-gerakan yang
tidak teratur, misalnya : 1) Gerakan tangan; 2) Menangis. Menangis permulaan
adalah gerak refleks dari bayi yang baru lahir. Menangis sangat penting bagi
perkembangan selanjutnya karena dengan menangis secara tidak sengaja sudah
melatih otot-otot bicara, pita suara dan paru-paru; (2). Fase meraban (babbling),
Pada awal fase meraban (babling) tidak terjadi hambatan karena fase
meraban ini merupakan kegiatan alamiah dari pernapasan dan pita suara.
Mula-mula bayi babling, kemudian ibu meniru. Tiruan itu terdengar
oleh bayi dan ditirukan kembali. Peristiwa inilah yang menjadi proses
terpenting dalam pembinaan bicara anak. Bagi anak tunarungu tidak terjadi
pengulangan bunyinya sendiri, karena anak tunarungu tidak mendengar tiruan
ibunya. Dengan demikian perkembangan bicara selanjutnya menjadi terhambat; (3).
Fase penyesuaian diri, Suara-suara yang diujarkan orang tua dan ditiru oleh
bayi kemudian ditirukan kembali oleh orang tuanya secara terus menerus. Pada
anak tunarungu hal tersebut terbatas pada peniruan penglihatan (visual) yaitu
gerakan-gerakan atau isyarat-isyarat, sedangkan peniruan pendengaran (auditif)
tidak terjadi karena anak tunarungu tidak dapat mendengar suara.
Secara garis besar pendapat tentang intelegensi
anak tunarungu di klasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu: (a). Pertama anak
tunarungu dianggap sama dengan anak normal. (b). Kedua, dianggap bahwa
intelegensi anak tunarungu lebih rendah dari anak normal. (c). Bahwa anak
tunarungu mengalami kekurangan potensi intelektual pada segi non verbal
(YukeSiregar, 1981 : 2 ).
Semua anak memerlukan perhatian dan dapat diterima di
lingkungan yang di tempati. tidak terkecuali anak tunarungu, tetapi semua itu
akan sulit didapatkan oleh anak tunarungu karena mereka hanya dapat merasakan
ungkapan tersebut melalui kontak visual. Berbeda dengan anak normal yang dapat
merasakan ungkapan yang diberikan melalui nada suara yang diperoleh dengan cara
mendengar. Hal ini akan berpengaruh pada perkembangan emosi anak tunarungu.
Karena keadaanya itu anak tunarungu merasa terasing dan terisolasi dari
lingkungannya. Sering terjadi, ketidak mampuan mereka dalam berkomunikasi
mengakibatkan suatu kekurangan dalam keseluruhan pengalaman anak yang
sebenarnya dasar bagi perkembangan, sikap dan kepribadian.
Setiap manusia memerlukan interaksi dengan lingkungannya.
Untuk dapat berinteraksi dengan baik terhadap lingkungannya di perlukan
kematangan sosial. Yuke R Siregar (1986 : 26) mengemukakan tentang saran untuk
mencapai kematangan sosial, yaitu: (a). Pengetahuan yang cukup mengenai
nilai-nilai sosial dan kekhasan dalam masyarakat; (b). Mempunyai kesempatan
yang banyak untuk menerapkan kemampuannya; (c). Mendapatkan kesempatan dalam
hubungan social; (d). Mempunyai dorongan untuk mencari pengalaman; (e). Struktur
kejiwaan yang sehat yang mendorong motivasi yang baik.
Pembelajaran Karya Wisata
Metode pembelajaran karya wisata merupakan salah
satu metode yang dapat digunakan untuk memberikan suatu pengalaman langsung
kepada anak. Dari pengalaman tersebut anak dapat melihat secara langsung benda atau objek-objek
tertentu sehinga dapat menambah pengetahuan anak. Dengan metode karya wisata
tujuan pembelajaran dapat dicapai. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurani S
(2007:7.10) bahwa metode karya wisata adalah mengunjungi secara langsung ke
objek-objek disekitar anak sesuai dengan tujuan anak yang ingin dicapai. Metode
karya wisata diterapkan dengan cara guru menjelaskan sesuatu dengan benda atau
objeknya, anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memehatikan, meneliti
objek tersebut.
Pembelajaran dengan metode karya wisata merupakan
salah satu pembelajaran yang sangat menarik bagi anak. Pada pembelajran ini
anak melakukan kegiatan dengan cara mengamati dunia sesuai kenyataan yang ada
secara langsung yang meliputi manusia, hewan, tumbu-tumbuhan, dan benda-benda
lain. Dengan mengamati langsung anak memperoleh kesan sesuai dengan
pengamatanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Galih Joko (2009) yang
menggolongkan tahapan anak berumur 5-6 tahun ke dalam tahapan pra schematic. Pada tahapan ini anak
dalam berkreativitas seni lebih cenderung bisa menggambar dengan bentuk pola
yang baru saja dilihatnya walau baru pertama kali melihat.
Dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap
benda-benada yang nyata, anak lebih mempunyai inpirasi untuk objek yang akan
digambar. Dengan melakukan kegiatan diluar kelas, pengalaman anak akan semakin
bertambah sehingga dapat mendukung anak untuk berekspresi dalam bentuk gambar
dan menceritakan pengalamanya sesuai dengan gambar yang telah dibuatnya. Hal
tersebut juga menambah keaktifan anak dalam melakukan berbagai aktivitas di
luar kelas. Hal ini sesuai denga pendapat dari Moeslichatoen (2004:71) yang
mengungkapkan bahwa metode karya wisata dapat pula menjadi batu loncatan untuk
melakukan kegiatan yang lain. Misalnya bermain membangun, menggambar, bermain
drama. Sehingga kegiatan yang dilakukan lebih melibatkan anak dalam
pembelajaran guru hanya memfasilitasi bila anak kurang memahami tentang apa
yang telah diamati.
Dengan mengajak anak untuk keluar kelas dan
mengamati benda serta peristiwa yang dapat digunakan anak untuk dijadikan
sebagai objek gambar, tentunya akan meningkatkan kenikmatan dan keaktifan anak
sehingga dapat mempermudah anak untuk berekspresi melalui gambar dan cerita. Hal ini juga
sesuai dengan pendapat Moeslichatoen (2004:72) yang menyatakan bahwa apa yang
ingin ditampilkan dan dilakukan oleh anak berangkat dari pemahaman tentang
sesuatu yang diamati. Maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran karya
wisata sangat tepat untuk meningkatkan kemampuan menggambar bebas anak.
Pembelajaran Menggambar
Menurut Effendy Jauhari (2008) untuk memahami apa
sebenarnya menggambar dengan kuas atau jari. Pada hakekatnya menggambar ini
adalah pengungkapan seseorang secara mental dan visual dari apa yang dialaminya
dalam bentuk garis dan warna. Menggambar merupakan wujud pengeksplorasian
teknis dan gaya, penggalian gagasan dan kreativitas, bahkan bisa menjadi
ekspresi dan aktualisasi diri. Pada intinya menggambar adalah perpaduan keterampilan,
kepekaan rasa, kreativitas, ide, pengetahuan dan wawasan. Menggambar dan
mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar
mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka.
Kegiatan menggambar dilakukan dengan cara mencoret,
menggores, menorah benda tajam kebenda lain dan member warna, sehingga dapat
menimbulkan suatu gambar (Pamidi, Hajar, dkk, 2008:2.5).
Tujuan kegiatan menggambar di TKLB adalah menggambar
kepekaan indrawi, khususnya indera penglihatan, kepekaan artistic, keterampilan
motorik dan daya imajinasi anak (widia pekerti dalam sofa, 2008). Seiring
dengan tujuan menggambar yang diutarakan diatas, pamidi, hajar dkk (2008:2.22)
mengungkapkan bahwa tujuan menggambar yaitu untuk melatih mengutarakan pendapat
dengan lancar.
Bahan atau bidang gambar yang dapat digunakan dalam
menggambar yaitu kertas gambar, kertas karto, papan tulis, dan bidang datar
lainnya. Ukuran kertas gambar berupa lembaran lebar/besar, A3, A4, atau yang
lebih kecil lagi (Sumanto, 2005:49). Menurut pamadhi, hajar, dkk (2008:2.22)
media atau bahan dapat digunakan menggambar antara lain: 1) Kertas karton yang
terdiri dari ukuran, A5, A4, A3 dan plano atau ukuran kertas gambar padalarang
(60x45); 2) Kanvas adalah medium gambar yang paling kuat disbanding bahan kertas
dan karton; 3) Papan kayu lapis; 4) keramik, gerabah dan batu, seperti keramik
lantai dan gerabah peralatan dapur; 5) fiber glass, bahan ini merupakan bahan
inovasi menggambar dengan tenik yang lepas dari penggunaan medium gambar.
Peralatan yang umum digunakan yaitu: 1) Pensil hitam
dan pensil warna; 2) Crayon dan pastel, caryon adalah pewarna yang mengandung
campuran lilin dan pastel adalah kapur pastel tidak tercampur dengan lilin; 3)
Tinta, tinta adalah pewarna cair yang biasanya dibuat untuk menulis dan
menggambar; 4) Cata air (water verf); 5) Cat plakat atau paster; 6) Pewarna
gambar lainya, misalnya kapur tulis, kapur warna, spidol, boopoint, dan pewarna
yang datar atau rata; 7) Kuas dan palet gambar.
Teknik menggambar menurut pamadhi, Hajar dkk
(2008:2.30) di taman kanak-kanak terdapat dua teknik menggambar yaitu dengan
teknik kering dan basah. Lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan dua teknik
tersebut yaitu: (1). Teknik kering adalah tenik menggambar langsung diatas
medium dengan menorah atau menggores dengan pensil maupun pastel. Dalam
perkembanganya tenik menggambar dengan teknik kering dapat dicampur dengan
menggambar dengan teknik basah. (2). Teknik basah adalah teknik menggambar
dengan bahan cat air dan digunakan dengan cara mencairkan terlebih dahulu.
Jenis cat air bermacam-macam, misalnya: aquarel
atau cat air atau sering disebut water
colour yang besifat tipis dan sulit kering. Cara mengcairkan aquarel yaitu menuangkan air kedalam
mangkuk atau palet cat air baru dituangkan cat airnya. Selain aquarel terdapat teknik tempera yaitu dicampur dengan air tapi
bersifat pekat. Cara mencairkanya dituang kedalam mangkuk/ palet cat air
setelah itu baru dicairkan dengan air.
Menggambar Bebas
Menggambar bebas adalah istilah di lapangan. Pada
istilah seninya menggambar bebas lebih dikenal dengan menggambar ekspresi.
Ekspresi adalah pencerminan atau pengunkapan emosi dan perasaan melalui
kegiatan menggambar dan melukis. Menggambar ekspresi adalah kegiatan pengungkapan
emosi dan perasaan yang tembul akibat pengalaman-pengalaman dari luar ke atas
bidang gambar (Dhermawan dalam sumanto 2005:61). Pengalaman dari luar tersebut
diperoleh pada saat guru menerapkan metode karya wisata. Dengan mengajak anak
berkarya wisata anak memperoleh pengalaman sehingga dapat mempermudah anak
untuk menuangkannya ke dalam bentuk gambar ekspresi.
Karakteristik menggambar ekspresi adalah (a)
menampilkan bentuk-bentuk gambar bebas, unik, dan kreatif, (b) menampilkan
unsure-unsur garis, warna sesuai gaya pribadi penggambarnya, dan (c) obyek
gambar sangat dinamis, dapat berupa kesan alam benda, pemandangan, kreasi
berdasarkan fantasi ekspresi lainya (Sumanto, 2005:62).
Langkah kerja menggambar ekspresi adalah menentukan
bentuk/obyek yang akan digambar kemudian secara langsung dan spontan
mengungkapkan sesuai peralatan menggambar yang digunakan. Misalnya gambar
pemandangan alam, gambar binatang, tanaman sesuai dengan perasaan dan
pengalaman anak. Setelah menggambar suatu bentuk atau obyek tertentu dilakukan
dengan penyesuaian yaitu dengan menambahkan pewarnaan pada obyek gambar secara
keseluruhan agar kesanya lebih indah.
Petunjuk dalam pemebelajaran menggambar ekspresi di
TKLB antara lain: 1) Guru menyiapkan kertas gambar lepas atau langsung di buku
gambar dengan ukuran gambar yang di inginkan; 2) Siapkan peralatan menggambar
(pensil atau cat); 3) guru hendaknya membantu menuntun langkah-langkah
menggambar mulai dari mengarahkan bentuk/obyek yang akan digambar, besar
kecilnya gambar yang bisa dibuat, menata/ meletakan bentuk/obyek yang digambar,
sampai cara menenbalkan/ mewarnai dengan alat gambar yang ada (crayon atau
cat), 4) guru juga member arahan bahwa dalam menggambar sesuatu bentuknya bisa
dibuat secara bebas sesuai keinginan anak, namun masih tetap menampilkan kesan
dari bentuk/ obyek yang digambar. Sehingga anak tidak biasa mencontoh atau
minta contoh dari guru. Dalam perwanaan anak dibebaskan untuk member warna
sesuai dengan keinginan anak. Tidak harus sesuai dengan warna yang ada di alam.
Kesimpulan
Tunarungu adalah
anak yang
mengalami hambatan dalam mendengar yang di sebabkan karena tidak
berfungsinya sebagian atau keseluruhan alat pendengaran sehingga anak
memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus agar dapat mengembangkan bahasa
serta potensi yang dimiliki anak seoptimal mungkin. Menggambar
dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar
mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Untuk
memudahkan anak tunarungu dalam menggambar maka pengajaran menggambar disekolah
TKLB-B menggunakan metode karya wisata.
Pembelajaran dengan metode karya wisata merupakan
salah satu pembelajaran yang sangat menarik bagi anak tunarungu. Pada
pembelajran ini anak melakukan kegiatan dengan cara mengamati dunia sesuai
kenyataan yang ada secara langsung yang meliputi manusia, hewan,
tumbu-tumbuhan, dan benda-benda lain. Jadi anak akan dengan menggambar hewan,
lingkungan atau pohon-phonan yang disukai oleh anak dan anak akan menggambar
secara bebas. Menggambar bebas/Ekspresi adalah pencerminan atau pengunkapan
emosi dan perasaan melalui kegiatan menggambar dan melukis. Menggambar ekspresi
adalah kegiatan pengungkapan emosi dan perasaan yang tembul akibat
pengalaman-pengalaman dari luar ke atas bidang gambar
Saran
Adapun saran yang ingin diberikan
adalah Kepada guru-guru hendaknya mengerti keadaan siswa dan memberikan
motivasi secara khusus agar siswa mampu mengembangkan dirinya. Pembelajaran
menggambar dengan metode karya wisata ini dapat dijadikan sebagai dasar belajar
yang juga dapat diterapkan.
Daftar Rujukan
Amin,
M. 1991. Ortopedagogik. Jakarta: depdiknas.
Departemen
pendidikan nasional. 2004. Kurikulum 2004
Standart Kompetensi TK & Raudhatul Athfal. Jakarta: Depdiknas
Efendi,
M. 2005. Psikopedagogik Anak Berkelainan.
jakarta: PT Bumi Aksara
Hallahan,
D. P., & Kauffman, J. M., (1978; 1982 [2nd Ed.]; 1986 [3rd Ed.]; 1988 [4th
Ed.]; 1991 [5th Ed.]; 1994 [6th Ed.]; 1997 [7th Ed.]; 2000 [8thEd.) Exceptional learners:
Introduction to Special Education. Boston: Allyn & Bacon.
Joko,
galih. 2009. Pengembangan Kreativitas dan
Seni, (online),
(http//indoskripsi.com-judul-makalah-tentang-pengembangan-kreativitas-dan-seni.htm,
diakses 03 Mei 2013).
Moerdiani,
S. 1987. Psikologi Anak Luar Biasa.
Bandun: universitas Islam Nusantara.
Moeslichatoen.
2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak.
Jakarta: PT,Rineka Cipta.
Nurani S,
Yuliani. 2007. Metode Pengembangan
Kognitif. Jakarta: universitas terbuka.
Pamadhi, hajar.
2008. Seni Keterampilan Anak.
Jakarta: Universitas terbuka
Sofa. 2008.
Metode Pengajaran Seni di TK, (Oline),
(http//masofa.wordpres.com-2008-02-03-metode-pengajaran-seni-di-tk,
diakses 03 Mei 2013)
Sumanto, 2005. Pengembangan Kreativitas Seni Rupa Anak TK.
Jakarta: Depdinas
Wahyono, Endro.
1992. Tunarungu dan Problemanya.
Malang: Perpustakaan UM
Wardani, I. G. A. K, dkk.( 2007
). Pengantar Pendidikan Luar Biasa.
Jakarta: Universitas Terbuka.
nice
BalasHapus